Sunday, September 30, 2012

DIMAHARKAN ILMU AMPUH PELARIS USAHA/ DAGANG



Keimuan nyata dalam mengentaskan kemiskinan dengan cara jitu dan aman. Sudah teruji dan terbukti. Sangat bermanfaat untuk menghadapi persaingan yang sangat berat seperti sekarang. Aman tanpa tumbal. Untuk semua agama.
Bermanfaat Untuk :
1. Selalu dalam kecukupan.
2. Terhindar dari kemiskinan.
3. Usaha selalu ramai dan bebas dari bala, gangguan.
4. Memperlancar Datangnya Rezeki.
5. Usaha / Dagangan Laris.
6. Terhindar Dari Malapetaka.
7. Terbebas Dari Hutang.
8. Mempermudah pembayaran hutang.
9. Terhindari dari penagih hutang yang galak.
10. Menarik rezeki dari segala penjuru mata angin.
11. Selalu hoky dalam tiap kesempatan.
12. Mendapatkan beragam kebaikan dunia dalam kerezekian, kemudahan, keberuntungan, kesuksesan dan lain-lain.
13. Mengangkat drajat dan martabat diri serta ikhtiar untuk membuka pintu kesuksesan.
14. Menunjang karier dan kerezekian serta keselamatan anda.
15. Jika kita ingin minjam uang, orang akan percaya.
16. Pelarisan pamungkas untuk segala jenis usaha.
17. Sukses usaha, bayar hutang dalam waktu singkat.
18. Bangkit dari kebangkrutan.
19. Sukses dan dihormati.
20. Bagi Anda yang punya warung, kedai, toko, rental, showroom orang akan lebih tertarik datang ke tempat Anda.
21. Dicintai semua orang. 


Dan masih banyak lagi manfaat utama dari keimuan ini. Segera miliki sekarang juga. Garansi sukses.
MAHAR IKLHAS UNTUK KEILMUAN INI : RP. 100.000,- (SERATUS RIBU RUPIAH). BERMANFAAT UNTUK SEUMUR HIDUP
Agar transfer Anda mudah dideteksi dan cepat saya proses, tambahkan 3 angka unik dinilai transferan Anda, misalnya 950. Jika Anda transfer Rp 100.000,- + 950,- = Rp 100.950,- (angka 950 sebagai petunjuk bahwa itu adalah transfer dari Anda). Angka unik ini bisa bebas Anda tentukan sendiri, 200, 500, 750 dan seterusnya. Yang utama, setelah Anda transfer, konfirmasi kepada kami nilai transfer yang telah Anda lakukan.
Setelah Anda transfer, smskan NAMA LENGKAP, TANGGAL LAHIR, AGAMA, NAMA EMAIL. MATERI KEILMUAN SAYA KIRIM HANYA MELALUI EMAIL DAN INBOX FACEBOOK.
Hubungi : Abah Rahman
HP : 0813 7630 6023 
PIN BB : 214841E6
Bank : Mandiri A/C 106-00-0509115-5 A/n Abdurrahman
Terdaftar di Kejaksaan Tinggi Sumut : No. B-45/DSP.5/01/2010
===SAMPAI JUMPA DI KEHIDUPAN SUKSES ANDA===

Saturday, September 29, 2012

Menerawang Anisme, Dinamisme dan Teisme di Nusantara

Sejak zaman pra sejarah nenek moyang bangsa Indonesia telah mengenal kepercayaan yang disembut animisme dan dinamisme. Dalam buku Sosiologi Agama yang ditulis Roland Robertson disebutkan :"Sebelum kedatangan agama Hindu di sekitar tahun 400 SM, tradisi keagamaan dari berbagai suku Melayu masih mengandung unsur-unsur animisme" (Roland Robertson, Jakarta : 182)

Dengan pengertian dari pernyataan tersebut bahwa kepercayaan dari tradisi keagamaan yang dimiliki oleh suku-suku bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh kepualan Indonesia pada waktu itu telah berabad abad tumbuh dan berkembang dalam bentuk corak yang masih sederhana (primitif). Meskipun masih sulit untuk memberikan gambaran tentang kehidupan kepercayaannya itu, namun mempunyai banyak garis kesamaan yang oleh AC. Kruyt dalam bukunya Keluar dari Agama Suku Masuk ke Agama Kristen menyebutkan :

Beberapa suku bangsa yang berbeda satu sama lain dalam perkembangan rohani dan agama ini telah saling pengaruh memengaruhi dan menciptakan  suatu kebudayaan majemuk. Kita dapat menganggp ada 3 taraf pemikirannya :
1. Dinamisme, dimana kuasa tak kelihatan dan yang ditakuti itu tidaklah berpribadi dan pengaruh yang dipunyai oleh kuasa kuasa ini atas orang-orang berlangsung secara mekanis, tanpa suatu kemauan sendiri, apabila orang memberi bentuk atas kuasa itu, maka mereka itu tak lain dari pada hantu hantu.
2. Anismisme, dimana kuasa itu menjadi berpribadi merupakan tokoh-tokoh rohani dengan kemauan sendiri, dengan jiwa-jiwa dan roh-roh.
3. Adanya kesadaran akan Allah, yaitu apabila alam manusia dan roh-roh dianggap berada di bawah pemerintahan para dewa atau Allah (AC Kruyt, Jakarta : 39)

Kehidupan manusia yang berpikir secara dinamistis besar mempunyai adanya kuasa roh  yang tak kelihatan (ghaib), yang ditakuti, dipercaya dan dilayani meskipun tak jelas apakah roh itu manusia setelah mati atau hantu hantu yang dapat menganggu kehidupan manusia.

Sedangkan kepercayaan yang kedua atau animisme ialah kepercayaan adanya roh (nyawa) yang ada pada benda-benda atau batu-batu, kayu-kayuan, tumbuh-tumbuhan, binatang maupun dalam makhluk lain yang terdapat di dunia. Menurut sarjana CF. Sruyt, "3/4 bagian dari suku-suku bangsa Indonesia masa itu adalah dinamisme dan animisme, sedangkan sisanya 1/4 bagian menunjukkan kesadaran akan adanya dewa-dewa atau kuasa Allah."(***) sumber : Dr. Drs. IGM Nurdjana, SH., M.Hum


Friday, September 14, 2012

RONGGOWARSITO SEBAGAI FILSUF BESAR NUSANTARA

Pada awal 90-an, saya pernah membaca sebuah buku yang di dalamnya ada kutipan puisi:

East is East and West is West, and never the twain shall meet (Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat dan keduanya tidak akan pernah bertemu).

Puisi itu ditulis abad ke 19 M oleh Rudyard Kipling, seorang sastrawan Inggris kelahiran India.  Puisi berjudul The Ballad of East and West itu sangat terkenal. Terutama karena rangkaian kata-katanya dijadikan semboyan kolonialis Eropa untuk menancapkan kaki penjajahan di benua Asia dan Afrika.

Pesan terselubung dibalik rangkaian puisi adalah: ras bangsa Barat (ketika itu khususnya Eropa) dan ras bangsa Timur (Asia dan Afrika) selamanya akan berbeda secara mendasar yang tidak akan pernah bisa disatukan. Dan kedudukan ras Barat lebih tinggi dari ras Timur.

Rangkaian kata dalam puisi itu menjadi semacam kekuatan ras Barat dalam melegitimasi penjajahan dan penjarahan terhadap kekayaan dan harta milik ras Timur. Itulah yang menjadi dasar penjajahan Bangsa Eropa terhadap sesamanya di Asia dan Afrika.

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, maka Barat dan Timur menyatu hingga kini. Tidak ada lagi pemisah antara ras Barat dan ras Timur. Kedua ras ini berada dalam kedudukan sederajat dalam menghuni Bumi. (Sepintas lalu, pesan puisi tadi kehilangan relevansinya. Tetapi kenyataannya tidak demikian).

Mitos

Kolonialisme yang terjadi hingga pertengahan abad ke 20 bukan hanya dalam bentuk penjajahan secara fisik, melainkan penjajahan pikiran. Inilah yang menjadi persoalan. Meskipun Negara kita sudah merdeka (yang ditandai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945), tetapi alam pikiran kita belum bebas dari sisa-sisa penjajahan tempo dulu. Tentu saja tanpa kita sadari.

Penjajahan pikiran ini antara lain tercermin dalam berbagai mitos yang berkembang di negeri ini, baik mitos terhadap tokoh (Sukarno, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain), mitos terhadap tempat (makam keramat, Gunung angker, dan lain-lain), mitos terhadap benda purbakala (candi, menhir, keris dan lain-lain).

Harus diakui, penilaian terhadap mitos itu relatif: ada mitos baik, mitos buruk, mitos benar dan mitos salah. Atau dengan kata lain, apapun mitos yang selama ini berkembang di masyarakat masih tetap dapat diperdebatkan nilai dan fungsinya.

Tulisan ini sekilas mengulas seputar mitos terhadap seorang putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini yang namanya sangat fenomenal: Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873).

Sosok fenomenal ini dikenal karena kecerdasan supranaturalnya yang jauh di atas orang-orang cerdas supranatural pada masanya. Bahkan hingga kini, kecerdasan supranaturalnya belum tertandingi siapapun.

Dalam berbagai buku, makalah, seminar, skripsi, disertasi, tulisan di internet dan ulasan berbagai media, senantiasa menempatkan Ronggowarsito sebagai pujangga dan peramal terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini.

Ronggowarsito terkenal karena karya-karyanya mengandung bermacam ramalan hingga ratusan tahun ke depan. Berikut petikannya:

Amenangi zaman edan,

Ewuh aya ing pambudi,

Milu edan nora tahan,

Yen tan milu anglakoni,

Boya kadumen melik,

Kaliren wekasanipun,

Ndilalah kersa Allah,

Begja begjane kang lali,

Luwih begja kang eling klawan waspada,

Maknanya:

Menyaksikan zaman gila,

Serba susah dalam bertindak,

Ikut gila tidak akan tahan,

Tapi kalau tidak mengikuti (gila),

Tidak akan mendapat bagian,

Kelaparan pada akhirnya,

Namun telah menjadi kehendak Alloh,

Sebahagia-bahagianya orang yang lalai (lupa),

Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Karya-karya Ronggowarsito yang terkenal diantaranya: Serat Kalatida berisi gambaran penjajahan yang disebut Zaman Edan. Serat Jaka Lodang berisi ramalan datangnya Zaman Baik dan Serat Sabdatama yang berisi ramalan tentang sifat Zaman Makmur dan Perilaku Manusia yang Tamak.Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau menulis Serat Sabdajati yang diantaranya berisi ramalan saat kematiannya sendiri.

Tetapi, nanti dulu. Sosok fenomenal yang namanya selalu diidentikkan dengan julukan peramal ini tampaknya tidak sesuai lagi disematkan pada Ronggowarsito. Julukan peramal adalah mitos menyesatkan yang (dengan atau tanpa sengaja) tertanam kuat di dalam benak masyarakat. Dengan kata lain, Ronggowarsito memiliki kecerdasan yang lebih dari sekadar seorang peramal. Ronggowarsito adalah filsuf besar Nusantara.

Bukan Sekadar Peramal

Menempatkan Ronggowarsito sebagai filsuf besar Nusantara, daripada sekadar pujangga dan peramal, diuraikan dalam buku Mengenali Ronggowarsito sebagai Filsuf  : Ketika Pemikiran Filsafat Dianggap Ramalan (Bidik-Phronesis Publishing, Jakarta, Mei 2012). Buku ini ditulis Lilik Sofyan Achmad (LSA) yang sejauh ini dikenal sebagai Guru Besar yang tekun dalam meneliti dan mengkaji karya-karya Ronggowarsito.

Gagasan penulisan buku ini berawal dari sebuah pertanyaan besar: Apakah pemikiran-pemikiran Ronggowarsito hanya berisi ramalan-ramalan belaka?

Pertanyaan inilah yang membawa LSA menelusuri secara jernih, teliti dan tajam terhadap seluruh karya Ronggowarsito. Lalu dari hasil kajiannya selama bertahun-tahun, LSA menyimpulkan bahwa pemikiran-pemikiran Ronggowarsito terbukti memiliki sistematika yang logis. Inilah yang secara meyakinkan menempatkan Ronggowarsito sebagai seorang filsuf besar yang pernah dimiliki bangsa ini.

Buku setebal 88 halaman ini merangkum hasil kajian LSA dalam hal pembuktian Ronggowarsito sebagai filsuf besar Nusantara yang sejajar dengan filsuf-filsuf besar negeri ini dan dunia dan bukan sekadar pujangga kraton, peramal, cenayang, paranormal atau apapun namanya.

Buku ini diawali dengan bab 1 yang mengisahkan masa kecil dan perjalanan karir Ronggowarsito. Bab 2 seputar teori paska kolonial dan relevansinya dengan pemikiran Ronggowarsito. Bab 3 mengungkap segala sesuatu yang dibangun dengan mitos dan bagian Penutup.

Buku ini menjadi menarik karena pada bagian akhir terdapat epilog berjudul Ronggowarsito Memang Filsuf yang ditulis Turita Indah Setyani. Dia adalah peneliti sastra dan budaya Jawa lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia di bidang kajian budaya dan feminisme yang kerap menjadi pembicara di pelbagai forum ilmiah nasional dan internasional. Tulisan Turita Indah Setyani sangat membantu Pembaca dalam memahami seluruh rangkaian isi buku ini.

Tidak kalah menariknya adalah kata pengantar buku ini yang ditulis Riko, Direktur Penerbit Buku Bidik-Phronesis Publishing. Riko tampaknya faham benar dengan LSA yang dilanda kegelisahan terhadap sosok Ronggowarsito yang hanya dikenal generasi muda bangsa ini sebagai seorang peramal.

Riko membuka jalan bagi LSA untuk mempublikasikan hasil kajiannya. Buku Mengenali Ronggowarsito sebagai Filsuf merupakan buku pertama yang terbit di Tanah Air yang secara tegas dan ilmiah memberi julukan baru kepada sosok fenomenal Ronggowarsito.

Membongkar Mitos Peramal

Anda tentu sudah lama mengetahui bahwa Ronggowarsito adalah seorang peramal ulung. Lalu Anda mungkin bertanya-tanya: Apakah terbitnya buku ini akan menumbangkan reputasi Ronggowarsito sebagai peramal?

Jawabannya: Tidak.

Buku ini sama sekali tidak bermaksud meruntuhkan Ronggowarsito sebagai seorang peramal yang ramalan-ramalannya masih relevan hingga saat ini, sebagaimana kutipan ramalan di atas.

Buku ini justru hendak menegaskan bahwa Ronggowarsito memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menempatkannya sebagai seorang peramal. Pemikiran-pemikiran Ronggowarsito yang terangkum dalam karya-karya monumentalnya itu bukanlah kitab ramalan, melainkan kitab filsafat. Ramalan hanya sebagian saja dari seluruh pemikiran filsafat Ronggowarsito.

Lalu pertanyaannya, mengapa selama ini kita mengenal Ronggowarsito sebagai peramal?

Inilah yang saya maksud dengan penjajahan pikiran. Sebagaimana petikan puisi Rudyard Kipling di atas (East is East and West is West, and never the twain shall meet).

Sejak dulu, bangsa Barat mencoba menanamkan ke dalam pikiran bangsa Timur bahwa para filsuf (atau para pemikir dunia) hanya milik bangsa Barat (baca: Eropa dan Amerika). Sehingga klaim majunya peradaban dan kecerdasan manusia harus selalu dimulai dari bangsa Barat.

Sedangkan bangsa Barat selalu mengidentikkan bangsa Timur dengan ramalan, mistik, supranatural yang dianggap sumber keterbelakangan. Padahal, manusia-manusia dari ras bangsa Timur ini memiliki kecerdasan yang setara dengan kecerdasan bangsa Barat.

Membaca buku baru ini memberi keyakinan kepada saya bahwa sosok fenomenal Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah selayaknya disejajarkan dengan para filsuf negeri ini dan filsuf dunia.

Tujuan utama penulis buku ini, tentu saja, hendak menempatkan pemikiran Ronggowarsito dalam pisau bedah filsafat dan tidak lagi membiarkan para petualang mistik, supranatural atau klenik, terus berputar-putar membicarakan ramalan Satrio Piningit, Zaman Edan dan sejenisnya.

Kajian pemikiran Ronggowarsito dapat berada dalam meja yang sama dengan para filsuf lainnya di negeri ini, seperti Tantular, Paku Buwana IV,  Ki Hajar Dewantara, Driyarkara, Romo Sugijapranata, Hamka, Franz Magnis Suseno, Leo Suryadinata, Nurcholish Madjid, Damarjati Supadjar, FX. Mudji Sutrisno dan lain-lain.

Dan bagi Anda yang senang menggeluti filsafat dan budaya Nusantara, maka saya merekomendasikan untuk membaca buku ini. Selamat Menikmati.


Judul Buku: Mengenali Ronggowarsito sebagai Filsuf: Ketika Pemikiran Filsafat Dianggap Ramalan
Penulis: Lilik Sofyan Achmad
ISBN: 978-602-99727-4-0
Tahun terbit: 2012.
Jumlah Hal: 88 hal.
Ukuran: 11,5 cm x 18,5 cm.
(Soft Cover, book paper).
Penerbit: Bidik-Phronesis Publishing.

Harga: Rp. 26.000,-

Sumber : http://gus7.wordpress.com/

Paranormal Abah Rahman

Melayani : Pemanis, pelarisan, kunci pasangan, pelet photo, susuk pengeretan, penunduk, pelet jaran goyang, semar mesem, benda-benda bertu...