Menebus Cincin Pernikahan Dengan Cincin Pelaris

Namaku Marni, seorang janda usia 38 tahun yang baru empat tahun menekuni usaha salon dan tata rias pengantin di Medan.

Sebuah usaha yang kurintis dengan modal awal uang hasil menggadaikan cincin pernikahan. Sebentuk cincin emas tiga gram yang menjadi biang perceraianku dengan Ucok, ketika dia tahu aku menggandaikannya dengan seorang rentenir. Waktu itu kami masih menyewa rumah di kawasan Perumnas Mandala. Padahal, cincin itu adalah hasil keringatku saat aku berkerja sebagai PRT di Marelan. Cincin yang sudah kusimpan lebih dari setahun, yang pada tahun 2011 terpaksa kuganti bentuk dengan gram yang sama di tukang emas, untuk kuserahkan kepada Ucok.  Lantas Ucok mengakuinya kepada keluargaku sebagai mahar darinya, untuk pernikahan kami di kampung.

Mengapa cincin mahar pernikahan bisa tergandai ? Ya, karena waktu itu tidak ada lagi solusi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ucok waktu itu seorang pengangguran dan pemalas, yang banyak menghabiskan waktu di kedai tuak. Setiap hari kerjanya main judi, dengan modal penjualan barang-barang yang ada di rumah. Jam tangan Seiko 5 dan keris warisan almarhum ayahnya, juga pakaian bagus-bagus yang dikirim abangnya dari Batam, habis semua. Termasuk barang-barangku, ludes dicurinya. Parahnya, tivi dan kursi tamu pun, lewat.

Sementara dik, dua orang adiknya tinggal sama kami, dan harus dibiayai sekolahnya. Sekolahnya di swasta pula itu. Makanya, keterampilan menyalon dan merias pengantin yang diajari majikanku di Marelan, kupakai. Dan itulah, makanya cincin kugadaikan sama seorang rentenir, sekaligus meminjam sejuta uangnya. Itulah yang kuceritakan dengan sebut saja namanya Teti, kenalan baruku yang kubawa ke rumah. Seorang pemijat yang hari itu kutolong , karena dia diusir dari sebuah panti pijat tempatnya berkerja, dan sempat kebinggungan di simpang Jalan Halat Medan. Karena Teti belum sampai satu bulan merantau ke Medan, dan kesehariannya hanya berada di panti pijat. Buta betul lah dengan kondisi kota Medan. Tak tahu mau kemana karena tidak punya saudara di Medan, kecuali seorang teman sekampungnya yang masih tinggal di panti pijat tempat mereka berkerja.

Teti mengakui, dia seorang jablai tanpa anak yang ditinggal merantau oleh suaminya. Ditinggal begitu saja tanpa kabar hingga lebih dua tahun, sehingga diputuskannya memenuhi panggilan teman sekampungnya itu, untuk menjalani pekerjaan yang sama di Medan. Ongkosnya ke Medan, ya juga dengan menggadaikan cincin pernikahannya, dan pinjaman dari orang yang lain sejumlah Rp 600 ribu. Makanya, aku terpancing untuk mencerikakan kisah nyataku kepadanya. “Jadi kak, sudah ditebus cincin pernikahan kakak itu ?” tanya Teti kepadaku. “Sudah… sudah…,” jawabku spontan. Kami ngobrol dan makan siang berdua di rumah sekaligus tempat usaha salon,  yang kusewa sejak lima bulan lalu. Kebetulan emakku, yang ikut aku tinggal di rumah sewa itu, lagi bertandang ke rumah kawan akrabnya di Tebing Tinggi. Ingin kangenan, setelah puluhan tahun tak jumpa, karena emakku pulang ke kampung. “Ini dia…,” ungkapku menunjukkan kepadanya, setelah kuambil dari dalam kamar. “Wah…, syukur ya kak, bisa ditebus. Tinggal aku lah ini, belum tahu bagaimana caranya menebus cincinku. Memang bukan dengan rentenir, tapi di pegadaian,” balasnya sambil mengamati cincin tersebut. Aku menanggapinya dengan ketawa kecil. Mengekspresikan bagaimana leganya aku, bisa menebus berikut pembayaran bunganya.

“Bagaimana ini ceritanya, kak ?” tanya Teti. Cincin Peralis Aku jawab apa adanya. Kubilang sama Teti, tidak lain karena aku menggunakan cincin pelaris yang kumahari dari seorang paranormal muda yang biasa disapa Abah Rahman. Aku bisa ketemu dengan orang Tanjung Balai itu, karena dibawa oleh seorang teman di kampung, yang memang pelanggan lama Abah Rahman. “Inilah cincin pelarisnya,” kataku sambil menunjukan sebentuk cincin batu yang kuikat dengan suasa tiga gram, yang kupakai di jari manis sebelah kanan. “Patutlah kak. Pengaruhnya berarti luar biasa ini. Soalnya, sejak kita ketemu tadi, perhatianku selalu tertuju ke cincin kakak ini. Cuma nggak ada terlintas apa pun dalam pikiranku. Nggak ada yang terlintas prasangka jelek. Ya..,  mungkin juga karena pengaruh cincin ini, makanya begitu kakak tawarkan aku ikut kakak ke rumah ini, aku pun iya saja. Penilaianku terus positif sama kakak. Padahal, tadi aku takutnya luar biasa. Macamlah yang ditakutkan,” sebut Teti. Aku pun membalasnya dengan tertawa kecil. Jadi, kataku kepadanya, setelah kami cerai secara resmi, aku pun pulang ke kampung untuk buka salon di sana. Maksudku, supaya kedua adiknya yang terlanjur akrab sama aku, tidak lagi ikut aku dan menjadi bebanku. Tapi itulah, jalan sih jalan usaha salonnya. Tapi tidak menjanjikan. Sekedar untuk makan saja yang baru bisa didapat. Makanya aku pun nekat minta kawani ibuku untuk menetap di Medan lagi. Ladang juga lah yang dijual untuk menyewa rumah dan keperluan lain. Sebelum menetap di Medan, ya itu tadi, aku sudah ketemu Abah Rahman. Kusampaikan kepadanya, semua problemku. Dan aku minta supaya pengaruh buruk di dalam diriku dibuang, karena aku merasa ada yang memistik aku.  Terus, aku minta bekal lah. Makanya, dikasinya aku cincin pelaris. Ya jujur saja, setelah kupakai cincin pelaris ini dengan niat  yang baik, supaya usaha lancar dan kehidupan normal, perlahan kehidupanku berubah. Ya…, karena doa ibuku juga, pastilah ya. Karena beliau tahu masalahku, dan tahu kalau solusi yang kutempuh dengan memakai cincin berenergi khusus.

“Kakak sudah tinggal di sini sama ibu kakak ?” tanya Teti. “Belum…. Belum… Di rumah ini kan baru lima bulan,” jawabku. Dan kubilang, sejumlah bulan saat aku menjalani keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Keadaan dari mulai aku kecil dan remaja di kampung sebagai anak petani,  terus merantau ke Jambi untuk minta ditamatkan SMA kepada adik kandung almarhum ayahku yang tinggal di sana. Kemudian pulang lagi ke kampung karena ayahku meninggal. Selanjutnya, merantau ke Medan dan menetap beberapa tahun sebagai PRT di Marelan. Di rumah kakaknya seorang pengusaha salon yang  menurutku dermawan. Saat di sanalah aku dibiayai kursus salon dan tata rias pengantin. Cuma yang dikecewakan majikanku itu, tanpa lebih dahulu konsultasi dengannya, aku memutuskan menikah dengan Ucok, yang tidak lain adalah, pernah menjadi supir di perusahaannya majikan laki-laki. Setelah nikah baru aku tahu, kalau Ucok itu bukan minta berhenti jadi supir, seperti yang diakuinya. Melainkan dipecat bos, karena pemalas dan ketahuan suka miras. “Kakak kenal dia dimana dan kapan ?” tanya Teti pula. Aku kan hampir setiap hari diminta majikan perempuan ke tempat usaha, untuk mengantarkan masakan dari rumah untuk majikan laki-laki. Karena beliau kan sudah banyak makanan yang dipantangkan, karena sakit. Aku perginya naik beca, pulangnya sering diantar bekicot itu. Tapi sudahlah tidak usah kita bahas lagi. Karena semuanya sudah terlanjur, yang menyebabkan sampai sekarang aku tidak berani ketemu dengan majikan dan keluarganya.

 “Kakak kerja dulu ya, nanti kita sambung lagi ceritanya. Itu, kayaknya ada tamu datang. Kalau mau istirahat, silahkan ke kamar,” kataku.(***)

Comments

Popular posts from this blog

DO’A UNTUK OBAT PENYEMBUH SAKIT KEPALA DAN DEMAM

DIMAHARKAN ILMU AMPUH PELARIS USAHA/ DAGANG