Wednesday, February 5, 2014

Cincin Pelaris Digunakan Tanding Memancing

Wak Ren, sang pemancing mania punya pengalaman baru. Tanpa sepengetahuan Abah Rahman, cincin pelaris yang semula diniatkan untuk pelarisan angsuran, digunakannya untuk tanding memancing. Hasilnya, Wak Ren pernah ‘disogok’ pemilik kolam, supaya tidak lagi ikut show. Sebab, hingga 3/4 ikan show yang sering diboyongnya pulang.
Kita sebut saja namanya Wak Ren. Pria 50 –an tahuan ini sudah belasan tahun mencari makan dengan mengangsurkan berbagai jenis peralatan dapur dan kain. Tapi karena tak kuat bersaing dengan trend barang bekas ‘Monza’, ia pun pada gilirannya menjadi pasien paranormal Abah Rahman.
“Kalau pakai istilah alumni, aku ini alumni angkatan pertama. Nomor stambuk rendah. Aku jadi pasien Abah, pada tahun pertama beliau buka praktek.
Waktu itu, imbuhnya, dia memahari cincin pelaris senilai Rp 300 ribu. Sudah dipakai hingga bertahun lamanya, sehingga ia pun masih bisa bertahan menjadi tukang angsuran. Nah, cincin pelaris itulah yang digunakannya pula untuk ‘memanggil’ ikan di kolam, sungai atau laut, sejak setengah tahun lalu.
“Ya terus terang, ini bijak-bijakan aku sajanya. Mula-mula kucoba supaya dapat ikan banyak di kolam bayar kiloan. Sering berhasil. Terus, kucoba yang bayar harian. Juga sering berhasil,” aku Wak Ren dengan senyum ompongnya.
Makanya, sambung dia, berani ikut show memancing. Yakni semacam perlombaan memancing di kolam dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, memancing 25 ekor ikan mas dalam waktu dua jam, dengan bayaran Rp 15 ribu atau Rp 20 ribu perorang.
Hasilnya, Wak Ren pernah ‘disogok’ pemilik kolam, supaya tidak lagi ikut show. Begitu pengakuannya. Sebab, hingga 3/4 ikan show yang sering diboyongnya pulang.
“Kan jadi kecut pemancing lain. Makanya diam-diam aku didatangi pemilik kolam. Tidak usah ikut show lagi. Imbalannya, aku boleh memancing di kolam dia yang lain. Tapi dibatasi, sampai satu kilo perhari. Atau maksimal lima kilo jika seminggu sekali datangnya,” aku Wak Ren polos.
Energi Supranatural Cincin Menurut analisa Wak Ren, ada dua penyebab mengapa ikan sering sangkut dikailnya. Pertama, karena umpan yang pas. Artinya, seorang pemancing harus paham apa umpan yang paling pas untuk ikan nila, untuk ikan siakap, ikan bandeng, ikan mas dan lainnya.
Apa umpan yang harus disiapkan bila cuaca panas, apa pula jika cuaca dingin atau hujan. Karena masing-masing jenis ikan, punya selera yang berbeda. Dan cuaca pada dasarnya mempengaruhi selera dan kelincahan ikan untuk mencari makan.
“Kalau kita pakai jalu atau jaring kecil, harus tahu pula ukurannya. Harus tahu cara melemparnya. Harus tahu di bagian kolam yang dalam atau dangkal yang lebih gampang dapat ikan. Harus tahu juga, umpan peletnya ditabur sebelum atau setelah jalu dilepar,” tambah Wak Ren.
Kedua, ya itu dia, karena pada bagian joran dibubuhi batu cincin pelaris made in Abah Rahman. Batu cincin memang sengaja ditenggelamkan ke air, diikat kuat sebagai pengganti timah pemberat.
“Nah, karena cincin menyatu dengan air, energi supranatural yang terdapat pada batu cincin pun bergerak memanggil ikan. Ikan pun terpanggil mendatangi umpan atau jalu, karena memang, fungsi cincin pelaris pada dasarnya adalah, menumbuhkan daya tarik atau minat. Ini menurut saya,” kata Wak Ren.
Menanggapi analisa Wak Ren tersebut, Abah Rahman yang ikut mendamping saat wawancara melontar senyum khas Tanjung Balainya. “Pengalaman Wak Ren ini, akan saya konsultasikan dengan guru saya. Karena terus terang, peruntukan cincin pelaris, ya kan untuk pelarisan jualan atau usaha. Tapi, ini kan luar biasa. Menurut saya, analisa Wak Ren masuk akal. Saya belajar dari pengalaman Wak Ren,” kata Abah.
Selama ini Bah, pernahkan pemancing minta bantuan Abah ? Dijawab pemilik nomor handphone 0813 7630 6023 ini, “Sering. Tapi tidak dikasi cincin. Dikasi umpan yang telah dibubuhi energi supranatural. Dan kenyataannya, banyak juga yang berhasil.”***

No comments:

Post a Comment

Paranormal Abah Rahman

Melayani : Pemanis, pelarisan, kunci pasangan, pelet photo, susuk pengeretan, penunduk, pelet jaran goyang, semar mesem, benda-benda bertu...