Monday, October 21, 2013

Tuah Keramat Keris Semar Pelarisan

AWAN mendung menggantung dengan hitamnya di langit kota Medan. Tampaknya sebentar lagi hujan deras akan turun. Senja itu, di tengah kemacetan Simpang Pos, diam-diam aku menangis karena nasibku yang tak kunjung berubah. 
Aku seorang janda tanpa anak. Sering dipanggil Wati, kepanjangan namaku Watini. Aku hanya wanita desa lugu, coba berubah nasib ke kota. Aku berasal dari Kabupaten Asahan. Aku ditinggal mati suami. Di kampungku, aku sering jadi bahan gunjingan mamak mamak, karena statusku yang janda itu. Aku tak tahan, karena sering dituding akan menganggu suami suami mereka. Memang ku akui, setelah kematian suamiku, para suami mereka terus terusan menggodaku. Agar tak dicap sebagai manusia sombong, aku layani saja teguran mereka dengan senyuman. Hal itu aku lakukan hanya untuk semata-mata menjaga silaturrahmi. Diperlakukan seperti itu, mereka sepertinya makin menjadi jadi saja menggodaku. Maka mereka makin berani dan terang terangan menggodaku. Bahkan, tak jarang di antara para lelaki itu, bersitegang memperebutkan aku.
Menurut diriku sendiri, sebenarnya aku ini tidak terlalu cantik, tapi menurut para teman-temanku aku ini wajahnya keibuan, penuh kelemah lembutan, sopan, perhatian, maka karena itulah para pria banyak yang menginginkan diriku.
Adalah Mas Parto, pria berusia sekitar 40 tahun tergila gila padaku. Ia memiliki dua putri yang sudah duduk di bangku SMP. Ia tampaknya mau mempertaruhkan apa saja asalkan mendapatkan diriku. Katanya, perkawinannya tidak bahagia. Istrinya dingin, pemarah, cerewet, tak bisa memberi kehangatan. Begitu ia mengenalku, Mas Parto menemukan apa yang dicarinya pada sosok seorang wanita. Walau sejujurnya aku juga menyenangi Mas Parto, tapi disisi lain ia sudah beristri. Aku tak bisa bayangkan kalau keluarganya hancur gara gara aku.
Mas  Parto memang lelaki sederhana dan bersahaja. Ia benar-benar setengah mati mengejarku dan meyakinkanku akan tetap menjaga keutuhan keluarganya bila menikah denganku. Tapi ajakannya tetap kutolak dengan halus.
Puncaknya, aku putuskan merantau ke Medan. Aku masih ingat betul. Ketika Mas Parto tahu keberangkatanku ke Medan, ia mengejarku sampai ke loket bus KUPJ Kisaran.
“Maafkan aku Ti, kalau selama ini menyusahkanmu. Tapi, setulusnya aku sangat menyangimu,” ujar Mas Parto dengan berkaca-kaca. Tampaknya ia benar benar terpukul akan kepergianku. Tapi apa mau dikata, tekadku sudah bulat.
“Ti, tolong ini jangan kamu tolak. Aku ikhlas membantumu. Ini uang untuk jaga jaga sebelum dapat kerja nanti,” ujar Mas Parto sembari menyerahkan amplop air mail. Sorot matanya penuh harap. Aku tak bisa menolak pemberian itu. Sesaat kemudian bus KUPJ yang kutumpangi melaju. Amplop itu masih saja kugenggam erat. Ketika sampai di Simpang Sei Bejangkar, perlahan kubuka. Ya ampun, ada 30 lembar  uang seratus ribu. Aku mengucapkan syukur dan mendoakan agar Tuhan memberikan rezeki melimpah pada Mas Parto dan keluarganya.
Di Medan, aku menumpang di rumah kenalan lamaku di Deli Tua, Yanti namanya. Sehari hari ia berjalan pecal dan suaminya jadi penarik beca. Sederhana, tapi kulihat temanku ini bahagia akan hidupnya.
Aku tak membuang waktu. Seminggu sampai di rumahnya, aku terus berusaha cari kerja. Tapi memang zaman sekarang ini sulit betul cari lowongan. Namun akhirnya berubah manis juga, dua minggu berkeringat cari kerjaan, akhirnya aku diterima jadi salesman kanvas makanan ringan. Karena hobbyku suka jalan jalan, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Hari-hariku selanjutnya adalah  berkeliling kota Medan. Masuk dari kedai yang satu kedai yang lainnya. Para pelangganku kuanggap keluargaku sendiri. Karena itulah mereka juga baik padaku. Hingga aku pun dianggap mereka seperti keluarga sendiri. Dan tak jarang aku selalu diundang di acara-acara keluarga mereka. Seperti sunatan, kawinan atau bahkan ulang tahun anaknya.
Tak terasa, pekerjaan ini sudah kulalui selama tiga tahun. Dan selama itu pula aku sama sekali tak pernah pulang ke kampung halaman di Kisaran. Sejauh ini hasilnya hanya pas pasan untuk makan dan keperluan hidup. Aku ingin perubahan. Bisa berkembang. Lama-lama aku merasa jenuh juga. Sepi dan tidak tahu apa yang harus diperjuangkan. Anak tak punya, keluarga juga. Bahkan, aku sering menangis dalam kesendirian. Dan tak jarang kulakukan ketika suasana seperti ini. Ketika senja sewaktu pulang kerja. Apalagi penjualan hari ini juga tidak baik.
         Aku pun menghempaskan pantatku di warung lesehan tak jauh dari Asrama Haji Medan. Lama kurenungi nasibku yang tak seberapa ini.  Iseng iseng aku membaca koran. Disana kulihat ada iklan Paranormal, namanya Abah Rahman. Ia mengiklankan produk pelarisannya. Aku tersenyum dan merenungi sejenak. Apa iya ?. Lama aku berpikir.
        Setelah yakin dan tekad. Akhirnya aku memutuskan berkunjung ke alamatnya di Jalan Medan-Tanjung Morawa KM 14,5 samping pintu Tol No. 79 Tanjung Morawa. Tak sulit untuk berjumpa dengannya. Setelah kuceritakan apa maksud dan keinginanku, ia memaharkan ke aku Keris Semar Pelarisan. Katanya piranti ini telah ditirakatkannya dan khusus diperuntukkan bagi pedagang maupun orang lain yang ingin meningkatkatkan kerezekian. Namun ia juga berpesan agar usaha usaha secara nyata juga dilakukan. Seperti kerja makin ulet dan semangat tidak boleh kendor, perbanyak sedeka juga penting, begitu nasihatnya.
Begitu mendapat Keris Semar Pelarisan, akupun merubah  cara kerja. Aku membawa produk sendiri dari grosir. Aku memasarkan obat-obatan dengan mo
dal sendiri. Aku keluar kerja, dan wirausaha. Karena yang punya kedai banyak kukenal, penjualanku juga bagus. Pendapatanku berlipat lipat.
       Kalau kurenungkan, nasibku seperti sengsara membawa nikmat. Aku pun menjadikan Abah Rahman, jadi penasehat spiritualku. Dan aku tak menyangkal, sejak mengikuti arahan dan bimbingannya ditambah dengan tuah gaib Keris Semar Pelarisan, hidupku kian berkibar. Luka hati dan kesepian masa lalu mulai hilang sudah. Atas anjuran Abah Rahman aku juga dianjurkan agar menikah. Tapi dengan siapa ?
        Lama aku termenung. Secara rezeki aku memang sudah bagus tapi untuk jodoh gimana ? Selama ini aku terlalu sibuk bekerja. Akupun berkonsultasi dengan Abah Rahman melalui hpnya di nomor 081376306023. Ia menganjurkan aku untuk terus bersabar dan selalu berpikir positif, agar hidup kita juga akan baik. Lama aku tercenung, tiba tiba pikiranku singgah lagi ke Mas Parto. Tapi akh sudahlah, itu hanya masa lalu. Siapakah ya jodohku ? (*)

No comments:

Post a Comment

Paranormal Abah Rahman

Melayani : Pemanis, pelarisan, kunci pasangan, pelet photo, susuk pengeretan, penunduk, pelet jaran goyang, semar mesem, benda-benda bertu...